-->

Penyelamat Penyu Lekang dari Desa Saba

Penyu Laut merupakan spesies ikonik Indonesia, hal ini tentunya merupakan kebanggaan nasional. Perlu sobat ketahui enam dari tujuh spesies penyu yang ada di dunia dapat ditemukan di wilayah Indonesia. Empat diantaranya bertelur di sepanjang pantai-pantai perairan Indonesia, yaitu Penyu Hijau, Penyu Belimbing, Penyu Sisik, dan Penyu Lekang.

I Made Kikik via balipost.com

Perairan Indonesia merupakan rute perpindahan (migrasi) Penyu Laut yang terpenting di persimpangan Samudera Pasifik dan Hindia. Lebih dari itu, Indonesia tercatat memiliki pantai  tempat bertelur Penyu Belimbing terbesar di wilayah Pasifik, yaitu Abun dan Papua. Serta peneluran Penyu Hijau terbesar di Asia Tenggara, yaitu Kepulauan Derawan dan Kalimantan Timur. Penyu Laut memiliki masa reproduksi minimal 10 tahun sebelum kembali ke pantai kelahirannya untuk bertelur. Dari telur-telur yang menetas tersebut, hanya beberapa yang mampu selamat hingga mencapai usia kematangan seksual dan siap berkembang biak.

Bagi masyarakat pesisir di sekitar area peneluran, Penyu Laut memiliki beragam arti. Selain erat kaitannya dengan mitos dan tradisi lokal. Daging dan telur penyu laut dikonsumsi masyarakat dan merupakan sumber protein sehari-hari. Sayangnya, sejak tiga dekade lalu berkembang perdagangan produk Penyu Laut, bahkan hingga ke pasar global. Angkanya kian tahun kian meningkat drastis. Perdagangan daging penyu banyak dilakukan di Bali, sedangkan perdagangan telur penyu dapat dengan mudah ditemukan di Kalimantan, Sumatera, dan Jawa.

via kkp.go.id
*klik gambar untuk memperbesar
Ancaman terhadap Kelangsungan Hidup Penyu Laut dan Habitatnya
IUCN telah menyatakan Penyu Laut masuk dalam Red List of Threatened Species (Daftar Merah Spesies yang Terancam). Sebagai spesies yang daur hidupnya secara alamiah sudah rentan, kelangsungan populasi Penyu Laut makin terancam dengan meningkatnya aktivitas manusia. Aktivitas-aktivitas tersebut mencakup hancurnya habitat dan tempat bersarang penyu, tangkapan sampingan (bycatch), pencurian telur, perdagangan ilegal produk penyu, dan berbagai eksploitasi yang membahayakan lingkungan. Hancurnya habitat penyu akan secara langsung membahayakan kelestarian spesies pemangsa ubur-ubur ini.

I Made Kikik via kompas.id


I Made Kikik hanyalah nelayan biasa yang tiap hari berburu ikan di laut. Bedanya dengan nelayan lain, selama empat tahun terakhir, ia juga mengisi hari-harinya menerima panggilan sebagai penangkar penyu lekang ((Lepidochelys olivacea). Sedikitnya 100 telur ditetaskan setiap hari di kolam-kolam pasir penetasan yang terbuat dari beton.  Di tempatnya berasal, ia bertindak sebagai ketua Kelompok Konservasi Penyu Saba Asri.


Kolam-kolam penangkaran ini ada di Desa Saba, Kecamatan Blahbatuh, di pinggir Pantai Saba di Gianyar, Bali, yang berwarna hitam. Lokasinya relative mudah dicari karena berdekatan dengan Villa Jeeva Saba dan Pura Anyar yang memiliki pepohonan sangat besar dan rimbun.

Pantai di sepanjang wilayah Gianyar ini memiliki musim peneluran penyu pada sekitar Maret-Agustus. Pada malam-malam itu, Kikik dan anggota Kelompok Saba Asri serta sukarelawan menyusuri pantai Saba, Biaung, Lepang, Purnama, dan Masceti untuk menemukan sarang-sarang penyu yang baru saja ditinggalkan induknya. Mereka beradu cepat dengan anjing-anjing liar setempat yang berpesta telur penyu di musim itu. Pencarian telur dilakukan dini hari sekitar jam 2 pagi hari karena penyu akan bertelur ditengah malam hingga dini hari. Penyu bertelur paling banyak disekitar bulan Mei-Juli. 
sarang telur penyu lekang via desasabagianyar.wordpress.com

Dalam satu sarang, mereka bisa menemukan 100-an telur untuk dibawa ke tempat penangkaran. Pada musim peneluran 2018 ini, mereka menemukan 317 sarang. Jumlah itu melonjak dibandingkan temuan tahun sebelumnya yang hanya 115 sarang. Sepanjang Pantai Saba dan sekelilingnya yang masih relative aman dari abrasi menjadikan banyak penyu memilih pantau ini sebagai lokasi peneluran. Telur penyu ini membutuhkan tempat yang bebas dari rendaman air, baik air laut atau tawar.

Untuk meningkatkan keberhasilan penetasan, telur-telur di sarang ini  kemudian ditaruh pada kolam-kolam pasir. Kolam itu terbebas dari gangguan anjing liar ataupun rendaman air. Setelah 45 hari, tukik-tukik mulai keluar dari cangkangnya. “Keberhasilan penetasan mencapai 80%,” kata Kikik.

Tukik yang telah menetas ini lalu dipelihara di kolam-kolam air laut yang hanya sedalam 10 centimeter. Setelah telur-telur menetas, tantangan terberat mulai dihadapi kelompok yang beranggotakan nelayan kecil. Untuk menghidupi 50 ekor tukik, mereka membutuhkan 1 kilogram udang atau tuna tiap kali makan atau 2 kilogram per hari. Harga udang Rp80.000 per kilogram atau biaya pakan Rp160.000 per hari itu memberatkan. Apalagi pada masa musim penetasan, ratusan ekor tukik harus dihidupi para nelayan pada pagi dan sore. Apabila kebutuhan pakan kurang, tukik akan saling menggigit sehingga memperbesar resiko kematian. “Sering kamu harus pakai uang sendiri dulu atau sering juga ngebon. Nanti kalau ada uang dari tamu yang melepas tukik, kami bayar,” kata Kikik.

Penyu Lekang di Pantai Saba

Untuk meringankan biaya kegiatan, Kelompok Konservasi Penyu Saba Asri yang dikelola nelayan memungut biaya pelepasan tukik Rp50.000 oer tukik. Dana yang terkumpul kemudian digunakan untuk penyempurnaan fasilitas dan sarana prasarana penangkaran. “Tidak ada honor untuk anggota yang memelihara,” kata Kikik.

Tak heran, anggota kelompok yang tadinya berjumlah delapan orang, kini tersisa empat orang. Separuh anggota perlahan undur diri karena merasa tak mendapatkan manfaat ekonomi dari penangkaran penyu ini. Kikik hanya berharap ada donator yang rutin membantu operasional harian penangkaran tukik ini.

Kikik mulai terpanggil di dunia konervasi penyu sekitar 10 tahun lalu. Saat itu, ia melihat anjing liaryang sedang berpesta telur penyu sepulang melaut. Peristiwa itu mengusik dan mengetuk hatinya. Ia sadar keberadaan penyu kini menghadapi ancaman sangat tinggi dari perburuan telur oleh anjing dan warga yang belum sadar pentingnya konservasi. Dengan inisiatif pribadi, ia mengumpulkan telur dari satu sarang dan menetaskannya di rumah dengan menggunakan kotak-kotak Styrofoam. Dari 100 telur, ia berhasil menetaskan 80 tukik. “Ternyata tidak sulit menetaskan telur penyu ini,” katanya.
tukik penyu lekang via desasabagianyar.wordpress.com

Ia pun kemudian mengajak wisatawan melepas penyu-penyu lekang tersebut dari pinggir pantai. Tak di sangka, peristiwa yang dirasanya biasa-biasa saja itu diabadikan oleh media lokal. Rupanya langkah itu membuatnya kesulitan karena harus memenuhi pemeriksaan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kementrian  Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta satpo PP. “Saya waktu itu benar-benar tidak tahu bahwa penyu termasuk binatang yang dilindungi,”katanya.

Untungnya dalih ini bisa dimengerti  dan kini pihak BKSDA aktif mendampingi Kikik dalam menangkar penyu. Pada tahun 2014, ia mendapat bantuan pemerintah kabupaten Rp50 juta yang dimanfaatkan untuk membuat penangkaran penyu. Donatur dari Bali Zoo, Yayasan Widya Guna, serta lembaga donor pun ambil bagian. Diantaranya turut membantu membuatkan pagar keliling penangkaran agar terbebas dari ancaman anjing liat yang mengincar telur penyu.

Dalam kesehariannya, Kikik bisa membagi waktu antara mencari ikan sebagai nelayan dan penetasan telur. “Musim kemarau itu biasa paceklik ikan. Akan tetapi saat itu pas musim penyu bertelur, jadi kami bisa mencari telur. Sebaliknya, musim ikan itu di musim hujan dan penyu yang bertelur jarang. Jadi saat itu kami bekerja mencari ikan,” katanya.
tukik penyu lekang via desasabagianyar.wordpress.com

Selain mencari telur penyu di sarang-sarang alam untuk ditetaskan, Kikik pun menerima telur-telurpenyu yang dikumpulkan sejumlah nelayan dari daerah lain, seperti Klungkung dan Amed. “Mereka membawa telur-telur itu kemari untuk ditetaskan. Ada yang dijual Rp3000 per butir, ada yang titip saja dan diambil setelah menetas,“ katanya.

Hingga kini, sedikitnya Kelompok Konservasi Penyu Saba Asri telah melepaskan 2.327 tukik di Pantai Saba. Di penangkaran, Kikik masih memelihara 2.500 ekor yang siap untuk dilepaskan ke alam.


sumber :
~Harian Kompas , Kamis 8 November 2018
~https://desasabagianyar.wordpress.com/2014/08/17/
~https://www.wwf.or.id/cara_anda_membantu/bertindak_sekarang_juga/sahabat_penyu/

Komentar (0)

Post a Comment